Pengaruh Penghafal Al-Qur’an bagi Anak
Banyak penelitian menunjukkan
betapa masa dini usia, yaitu masa lima tahun ke bawah, merupakan golden ages
(masa keemasan) bagi bagi perkembangan kecerdasan anak. Salah satu hasil
penelitian menyebutkan bahwa pada usia 4 tahun kapasitas kecerdasan anak telah
mencapai 50%. Seperti diungkapkan Direktur Pendidikan Anak Dini Usia (PADU),
Depdiknas, Dr. Gutama, kapasi
tas kecerdasan itu mencapai 80% di usia 8 tahun. Ini menunjukkan pentingnya memberikan perangsangan pada anak dini usia, sebelum masuk sekolah.
Setiap bayi memiliki potensi milyaran sel otak yang siap mendapat rangsangan. Sentuhan, lingkungan yang ramah otak, dan hands on, adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi otak anak. Sebagian ahli berpendapat, sel otak seorang bayi sebanyak bintang yang bertebaran di langit. Ada pula yang menduga, jumlah sel otak kurang lebih 100 milyar. Dari sini kita tahu bahwa hebatnya kecerdasan anak pada usia 5 tahun kebawah.
tas kecerdasan itu mencapai 80% di usia 8 tahun. Ini menunjukkan pentingnya memberikan perangsangan pada anak dini usia, sebelum masuk sekolah.
Setiap bayi memiliki potensi milyaran sel otak yang siap mendapat rangsangan. Sentuhan, lingkungan yang ramah otak, dan hands on, adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi otak anak. Sebagian ahli berpendapat, sel otak seorang bayi sebanyak bintang yang bertebaran di langit. Ada pula yang menduga, jumlah sel otak kurang lebih 100 milyar. Dari sini kita tahu bahwa hebatnya kecerdasan anak pada usia 5 tahun kebawah.
Tetapi hal tersebut sebagian para
orang tua tak menyadarinya. Sebagian dari mereka menganggap pada usia tersebut
usia anak untuk bermain dan bermain. Ada pula yang mengatakan bahwa menghafal
Al-Qur’an merupakan hal yang sangat berat untuk anak usia 5 tahun kebawah. Jika
kita liat hal itu justru tak mendukungan inti dari paragraf pertama. Menurut saya
menghafal Al-Qur’an bukan hal yang sulit terutama untuk anak usia 5 tahun
kebawah karna dalam usia tersebut semua pancaindra anak mengalami kepekaan sehingga
mudah masuk dalam memori otaknya.
Dalam hal menghafal Al-Qur’an yang
tidak memberatkan anak ialah bagaimana metodenya. Kita harus menyesuaikan
metode yang dipakai ini seperti apa tentunya harus sesuai dengan umur yang
masih balita. Contohnya metode murottal atau dengan selalu mendengarkan anak
Mp3 murottal Qur’an nah lama-lama anak juga akan hafal tanpa harus membaca. Hanya
dengan mendengar mereka mampu hafal ayat-ayat Allah.
Sebagai contoh seorang anak Iran bernama Sayyid
Muhammad Husein Tabataba’i, yang mulai belajar Al Quran pada usia 2 tahun,
dan berhasil hafal 30 juz dalam usia 5 tahun! Pada usia sebelia itu dia tidak
hanya mampu menghafal seluruh isi Al Quran, tapi juga mampu menerjemahkan arti
setiap ayat ke dalam bahasa ibunya (Persia), memahami makna ayat-ayat tersebut,
dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan dia
mampu mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris
ke berapa, di kiri atau di sebelah kanan halaman Al Quran. Dia mampu secara
berurutan menyebutkan ayat-ayat pertama dari setiap halaman Al Quran, atau
menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari ayat
terakhir ke ayat pertama
Untuk hal ini sebagai orang tua
jangan sia-siakan usia emas anak. Alangkah lebih baiknya jika anak ditanamkan
nilai-nilai islam seperti menghafal Al-Qur’an. Seperti ungkapan para penyair
arab ketika mencari ilmu di usia tua ibarat menulis kata-kata pada pasir lalu hilang
terkena ombak. Mudah hilang. Ketika mencari ilmu di usia muda ibarat engkau
menulis diatas bagu yang susah untuk hilang dan ilmu itu akan selalu melekat
dalam ingatan.


Komentar
Posting Komentar