Ketika Hati Memberontak
Ketika Hati Memberontak
Tak
terasa kini aku sudah menginjak kelas 12 SMA. Sudah genap pula berumur 17
tahun. Rasanya baru saja lulus dari SMP YADIKA “full day school” Islamic School
Bangil, lalu masuk MAN bangil, masuk
kelas 10, naik kelas 11, dan kini telah duduk di kelas 12. Rasanya sangat
cepat, dikelas 12 ini kami dituntut untuk fokus UN, lulus SNMPTN atau lulus
SBMPTN. Terkadang rasa rindu akan berogranisasi selalu muncul. Tapi, inilah
akhir masa SMA ini. Banyak mimpi yang ingin aku capai tapi semua impian itu
waktulah yang menentukan.
Takut..
Ya,
aku takut kecewa.
Aku
takut terjatuh,
Terlebih
lagi aku takut.
takut membuat orang tuaku sedih
kurang
4 bulan lagi UN akan datang. Kata mereka sambutlah
UN dengan perasaan senang dan anggaplah UN itu sebagai sahabat lamamu yang dulu
terpisah kini datang kepadamu dan melepas kerinduan. Aku sudah berusaha
untuk mengahdirkan rasa itu. Tapi rasa takut itu muncul. Aku menyadari diriku
bukanlah anak terpandai, aku juga tak rajin-rajin amat. Akupun juga sadar bekal
materiku belum cukup untuk bertemu UN. Kenapa demikian?. itu karna rasa malas
yang selalu saja hadir disetiap aku ingin merubah hidup dan kebiasaanku. Lalu
caranya bagaimana? Ya harus dilawan nafsu itu. Sudah! Tapi selalu tak bisa aku
terperangkap di zona nyaman. Lalu kau membiarkan rasa mala situ mengrogoti
kesuksesanmu! Kau tak percaya kata ajaib man jadda wa jadha?, kau tak percanya
janji Allah?, kau tak kasian melihat
raut wajah orang tua mu yang lelah bekerja untuk kehidupan dan kesuksesanmu?.
Andai kau tau Alvi mereka lelah, Amat sangat lelah tapi kelelahan itu terbanyar
ketika melihat kebahagianmu satu-satunya putri yang mereka punya. Mereka
berharap kau sebagai tauladan terbaik untuk adik-adikmu agar mereka bisa meniru
kesuksesanmu. Lalu, kau bayar harapan itu dengan rasa malas?. Dengan
menyepelehkan kau akan jadi sukses?. TIDAK!!. Orang yang berikhtiar dan selalu
berdoa itulah yang pantas mendapatkannya. Bukan orang malas yang hanya bisa
menunda dan berkata masih ada hari esok esok dan esoknya lagi.selagi kau mampu
lakukan sekarang. Jangan sekali-kali menunda. Orang cerdas tau waktu itu amat
berharga. Tetaplah berusaha sungguh tak ada yg sia-sia jika kau mau berusaha!.
Allah maha tau yang berbaik untukmu. Panjatkan doa disetiap sujud terakhirmu.
Buatlah orang tuamu bangga sebelum mereka diambil oleh Allah. Buatlah mereka
tersenyum bangga mempunyai anak sepertimu sebelum rasa penyesalan itu datang.
Kehilangkan
kesuksesan, impian lebih menyakitkan daripada kehilangan cinta. J
Itu
semua gemuruh dihatiku ketika diri yang bukan siapa-siapa ini merasa malas. Siapapun
yang membaca ini semoga bisa menjadikan inspirasi dan tentu menjadi menyemangat
untuk sukses. Yuk, sama-sama berjuang untuk kesuksesanya dunia dan akhirat. J
Untuk
muslimah, dunia ini butuh muslimah yang cerdas dan pandai untuk kemajuan islam.
Teruslah belajar dan belajar Karna anak-anakmu berhak lahir dari rahim
perempuan yang cerdas dan tentu berahlakul karimah.
Akupun
merasa apa yang aku tulis ini sedikit aneh sepertinya. Awalnya bercerita takut
UN tiba menjadi curahan isi hati yang memberontak. Hihihi.. maklum saja ya
pembaca. Ini salah satu proses belajar Alvi untuk jadi seorang penulis. #amiin
Tetap…
Semangat!
(^_^)///


Komentar
Posting Komentar