Ujian Saat Perjalanan




            Namaku Qistina Zahra. Orang-orang biasa memanggilku Zahra. Ini adalah kisah perjalanan hijrahku yang tak pernah aku duga sebelumnya. Sebuah kisah yang semakin membuatku mencintai Rabbku. Allah begitu menyayangiku, Ia menghendaki nur hidayahNya padaku. Ketika aku satu langkah menuju padaNya, Ia berlari kearahku.
            Tahun 2014 lalu aku bukanlah seorang diriku yang sekarang. Aku begitu jauh dari penciptaku. Aku melaksanakan sholat dan mengaji Al-Qur’an seperti biasa, tetapi itu semua hanya aku niatkan untuk memenuhi kewajiban saja, bukan karna niat untuk Allah. Sama halnya berjilbab. Aku berjilbab hanya sekedar berjilab dan itu aku lakukan lagi-lagi bukan niat karena Allah. Hal duniawi yang membuatku begitu jauh dari penciptaku, aku hanya fokus pada kebahagian dunia yang fana. Semua aku kejar demi terpenuhnya keinginanku. Sampai mengidolakan manusiapun aku pernah, sebut saja Artis Korea. Ya, aku terlalu fanatik kepada mereka, sangat amat mencintai mereka dulu. Mulai mendownload ribuan video mereka di Youtube, mengahafal lirik lagu yang sering aku tak mengerti artinya, dan  membeli majalah yang bergambarkan wajah mereka yang semakin membuatku terpesona, lalu memajangnya ditembok kamarku seolah-olah mereka menemani aku saat raga ini tertidur. Teriak histeris ketika mereka secara kebetulan muncul di chanel TV Indonesia. Bahkan acara-acara pertemuan sesama fans juga aku hadir. Sampai berniat menonton konser mereka, merelakan sebagian uang saku ditabung untuk melihat konser mereka yang hampir tiap tahun mengadakan. Hidupku aku habiskan untuk memikirkan hal yang sangat sia-sia. Geli aku mengingat masa laluku. Jika dipikir dengan akal sehat pasti banyak yang mengira aku sedikit agak tidak waras. Untuk pergaulanpun aku juga berteman dengan teman yang satu level, satu level dalam artian sesama fans kpop. Pembicaran kamipun tidak jauh-jauh dari idola kami. Seakan tidak ada habisnya membicarakan mereka. Aku marah ketika seseorang menghina idolaku, tetapi ketika orang lain menghina Rasulku, aku hanya diam seolah-olah tak mengerti apa-apa. aktiftasku hanya sekolah, sholat dan ngaji sekedarnya, yang paling menonjol dalam hidupku ialah aktifitas yang semakin membuat rasa cintaku terhadap idola lebih dari apapun. Dan itu semua aku lakukan setiap hari seolah ruang lingkup hidupku monoton pada itu-itu saja. Tidak ada terbesit dipikiranku untuk sekali-sekali mengahidir taklim atau menghafal surah-surah pendek di Al-Qur’an.
            Waktu terus berjalan. Pada saat itu ada sebuah acara event yang cukup populer, semacam konser mini. Hanya saja yang prefrom bukan yang asli. Acaranya saat mirip dengan konser, jadi seakan-akan berada dikonser sungguhan. Aku dan beberapa temanku sepakat untuk ikutan acara itu. Sama seperti seorang fans pada umumnya yang belum pernah melihat konser idola aslinya. Pasti terbesit dihatinya ingin merasakan bagaimana sih rasanya liat konser?. Ya, walaupun yang tampil nanti hanyalah tiruan. Sekali lagi, itu semua aku lakukan untuk kebahagian duniawi. Sampai waktu hari acara itupun tiba. Kami berangkat dengan menaiki mobil temanku. Satu hal yang belum aku sadari, Yaitu perubahan temanku. Hafsah namanya. Ia sama sepertiku dan teman-teman yang lain, fanatik kepada idola. Perubahannya baru aku sadari ketika kami sudah sampai tempat tujuan dan mengantri untuk masuk, ia berdiri depanku. Mataku melihatnya dari bawah sampai keatas, ia menggunakan kaos kaki menutupi kulit kakinya, jubah yang menjulur panjang melindungi tubuhnya serta jilbab yang lumayan lebar yang ia kenakan. Perubahannya semakin aku rasakan manakala aku melihat sekelilingku, anak-anak remaja disini kebanyaknya menggunakan celana jeans yang pastinya memperlihatkan bentuk kakinya. Hanya dia yang dengan PDnya menggunakan pakai seperti itu diacara seperti ini.
            Acaranyapun tak jauh beda dengan konser-konser megah dijakarta hanya saja ini dibuat semini mungkin. Setelah acara selesai kita sepakat untuk jalan-jalan sebentar kesalah satu mall dikota Surabaya. toko buku disanalah salah satu tujuan kami. Sampainya ditoko buku teman-teman langsung mencari buku yang mereka ingin beli. ada yang mencari novel atau komik. Mereka seakan menemukan dunianya sendiri. Sedangkan aku?, Aku bingung harus mencari apa disini. ya, memang aku tak ada niatan untuk membeli buku. Aku sedekar berjalan-jalan dengan hanya melihat-lihat tanpa ada niatan membeli. Sampai aku tak sengaja melihat hafsah yang sedang asik memilih buku, Kudekati dia “hafsah nyari buku apaan sih?.” Aku bertanya padanya sambil melihat judul buku yang ia pegang. Buku agama?, batinku. Aku melihat keatas lemari buku tertera tulisan “Buku Agama” yang menunjukan memang ini tempat khusus buku-buku agama. “ini nih, bingung mau beli buku apa?. pada bagus-bagus semua.” Jawabnya sambil melemparkan senyum padaku. Aku melihatnya hanya dengan tatapan tak menyangka dia berubah bukannya hanya penampilan saja tetapi dalam segi keinginan dan kebutuhan juga mulai berubah. Mungkin lewat dialah Allah memberikan kodeNya terhadap kepadaku. Setelah membeli beberapa buku kitapun pulang.
            Beberapa hari setelah acara itu. Aku sudah tidak terlalu memikirkan perubahan hafsah dan aku kembali dengan kebiasaanku sebelumnya. Tatkala itu aku sedang asik pada gadgetku. Seperti anak muda pada umumnya yang aktif di jejaring sosial, seperti facebook,twitter,instagram akupun juga tak mau ikut tertinggal zaman. Aku mempunyai beberapa jejaring sosial yang sebagian besar aku gunakan untuk mengupdate tentang idolaku. Mulai dari mengaploud fotonya, status yang memuji-mujinya dan masih banyak lagi. Tak pernah aku gunakan untuk mencari atau sekedar berbagi ilmu agama kepada banyak orang. Dan disinilah kisah perjalanan hijrahku dimulai. Tanpa sengaja melihat diberanda instagramku, seseorang yang mengepost kata-kata yang seakan-akan menampar wajahku. Kata-kata itu yang membuatku sadar untuk siapa sebenarnya aku hidup. Bahwasannya dunia ini hanyalah permainan dan sendau gurau, seperti anak kecil yang sedang berlomba membangun rumah-rumah pasir di pinggir pantai. Begitu serius membangun istana impiannya. Tetapi, setelah istana-istana itu jadi. Air pasang datang dan menyapu istana pasir lalu hilang tanpa sisa. Dunia ini hanyalah sementara kehidupan sesungguhnya ialah akhirat dan surga untuk orang-orang yang shalih. Siapa yang bisa menjamin jika esok aku dilamar kematian didetik aku sedang bemaksiat dihapanNya.  Batinku berkata aku harus berubah, aku ingin menjadi anak yang sholeha. Bagaimana jika Allah benar-benar memanggilku disaat aku bebuat dosa kepadanya. Tak tau diri sekali aku ini, Allah memberikan aku nyawa serta fisik yang tak cacat tetapi tak satupun aku berucap syukur padaNya. Lama kelamaan Aku semakin ketagihan untuk membaca artikel-artikel islam di instagram. Salah satunya tentang hijab, banyak yang tidak aku ketahui bagaimana hijab yang seharusnya. Dari sinilah aku mulai belajar dan terus mencari informasi. Sampai akhirnya aku niatkan diriku untuh hijrah di jalan Allah. Akupun teringat oleh hafsah lalu mencari akun Intagramnya dan melihat akun miliknya. Ternyata dia sudah semakin berubah. Kini foto-foto idola yang dulu dia sukai mulai banyak yang dia hapus dan berganti kata-kata dakwah. Salah satu fotonyapun kini ia sudah memakai jilbab lebar nan syar’i, sangat anggun dan tentram dipandang mata. Aku semakin terdorong untuk berubah dan kini aku mulai menirunya. Postingan idola-idola di akunku mulai aku hapus satu persatu dan aku ganti dengan postingan dakwa yang bermanfaat. Sepertinya hafsah menyadari perubahanku dia menulis komentar di salah satu postinganku.
“Allhamdulillah, sekarang Zahra udah gak korea-korea lagi. Semoga Istiqomah yaaa.” Tulisnya. Aku mengamini doanya. Semoga Allah benar-benar memberikanku ketetapan hati dan menuntun untuk selalu istiqomah dijalanNya.
“iya, kan itu bukan bukan ilmu, jadi ya gak perlu di share. Amin.” Balasku pada hafsah.
            Pada awal berhijrah, aku sama sekali tak punya jilbab syar’i. sebagian jilbabku hanya kain tipis yang aku gunakan jika pergi kesekolah. Tak kehabisan akal, aku menggabung dua jilbab tipis sampai benar-benar tidak terlihat transparan dan melebarkanya. Pakaianku yang dulu selalu pakai celana kini aku ganti dengan rok panjang. Jangankan pakaian, isi Hp serta laptopku yang sebagian besar berisikan idola-idola kini aku hapus tanpa terkecuali dan berganti dengan murotal-murotal Al-Qur’an. Saat sekolahpun aku mulai memakai jilbab yang tidak transparan. Jilbab syar’i yang pertama aku miliki aku belinya dengan tabunganku sendiri. Jilbab itupun hanya sebuah kain lebar biasa yang kira-kira panjangnya satu setengah meter. Tapi, aku sangat bahagia saat itu. Akhirnya aku punya jilbab syar’i.
            Waktu terus beputar. hingga orang-orang diselilingku mulai dari orang tua, bibi, dan teman-teman sekolah mulai menyadari perubahanku. Teman-teman banyak yang bilang
 “wih, panjang banget jilbabnya.”
“dapet hidayah darimana nih?”
“gak seru nih zahra kalau taubat, nnti jadi pendiam” dan masih banyak lagi yang mereka ucapakan tentang perubahanku. Terkadang menahan tawa juga mendengar mereka berkata demikian, kata-kata yang bikin sakit hatipun juga banyak dan berusaha membalasnya dengan senyuman. Ibupun juga ikut berkomentar dalam perubahanku.
“kamu ikut apaan di sekolah?”,
“kamu ikut aliran apa?”. masih banyak lagi kata-kata yang cukup menyayat hati. yaAllah begitu sulitkah langkahku untuk dekat denganmu?. Kuatkan aku yaAllah. Aku menyadari bila aku bukan terlahir dari keluarga yang tinggi akan ilmu agamanya. maka dari itulah aku mulai belajar dan belajar. Ibu, kaulah orang yang melahirkanku, kaulah orang yang merawatku hingga aku dewasa, tentu ucapanmu harus dipatuhi. Namun, jika engkau menyuruhku dalam hal yang salah, apakah aku harus turut serta mengikutinya?. Ibu, aku ingin berhijrah. Aku ingin berhijab syar’i. aku tau ibu kaget dengan perubahanku, aku tau ibu sempat berburuk sangka akan perubahanku. Tapi percayalah, ini semua ini murni perintah Allah. Izinkan aku untuk bisa menempuh lebih tinggi ilmu agamaku dan izinkan aku untuk membawa engkau turut serta keJannahNya. Ingin sekali aku tumpahkan apa yang ada di benakku dihadapan ibuku. Namun, apadaya aku hanya bisa berdiam dan mulai meneteskan air mata.
            Beberapa bulan setelah aku yakin akan perubahanku. Tidak ada satu orangpun yang mendukung perubahanku.mereka tetap menilai aku mengikuti aliran yang tidak jelas. Aku semakin mempererat hubunganku dengan penciptaku. Disepertiga malamNya yang indah dalam sujud aku tumpahkan segala keluh kesahku padaNya.
 Jika memang ini suatu ujian yang engkau tetapkan pada hamba maka, kuatkanlah hamba bukanlah pintu hati orangtua dan saudara-saudara hamba. Berikanlah mereka sebuah sinar hidayahMu.
Semakin bertambahnya hari. Semakin banyak pula bentuk caci dan makian. Meski jalan ini terasa berat untukku, namun aku yakin ini adalah cara Allah untuk menguji hambaNya yang beriman. Segala ucapan mereka aku balas dengan senyum ketegaran. Sekalipun mereka nantinya akan meninggalkanku karena perubahanku, aku tetap yakin Allah akan senantiasa selalu menemaniku.
            Pukul 10.00 bel istirahat berbunyi. Aku melangkahkan kakiku kemasjid sekolah untuk melaksanakan sholat dhuha. Ku mencoba mengkhusukkan sholatku demi mendapatkan ketenangan hati dan tentu RidhoNya. Setelah selesai aku tak lantas melepas mukenahku. Kuakat kedua tanganku memohon ampun padaNya. Tanpa kusadari air mata menetes mambasahi kain mukenahku. Tatkala disampingku ada seseorang yang mendekat kepadaku dan duduk tepat disampingku sambil menungguku selesai berdoa. Aku menoleh kepadanya dengan mengusap air mataku, ternyata dia teman satu kelasku. Mila namanya, dia satu-satunya yang bisa dibilang alim dari 35 murid dikelasku. Pakaiannya mulai dari awal masuk juga tidak pernah berubah. jilbab yang lebar selalu menemaninya dan membuat dirinya Nampak angun. Tutur kata yang lembut sangat mencerminkan wanita muslimah yang sesungguhnya, iri aku padanya. Ia menepuk pundakku “ Zahra, ada masalah apa?. aku senang melihat perubahanmu sekarang ini. tetapi, kenapa kau Nampak selalu sendiri dan murung.” Katanya menatapku iba dan penuh tanda tanya. Aku tak kuasa menahan air mataku yang mulai berkaca-kaca dan aku tiba-tiba memeluk mila. Air mataku tumpah saat itu juga. “mil, apakah ini sungguh ujian dari Allah?. Kenapa tak ada seorangpun yang mau menerima perubahanku. mereka mencaciku, bahkan orang tuakupun..” aku tak dapat meneruskan perkataanku karna tangisanku yang begitu hebat.
Mila mencoba menenangkanku. “Zahra, pernahkah kau mendengar istilah “Dunia adalah nerakanya orang beriman dan surganya orang kafir?” seperti itulah rasanya ketika kau berusaha berjalan mendekatiNya. Banyak sekali rintangan yang harus kau hadapi untuk menempuh jalan menuju ridhoNya. Disaat kau bersabar dengan segala ujian yang menimpahmu. Allah berikan janji surgaNya. Jangan pernah takut Zahra, Allah tidak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan umatnya. Allah yakin kau mampu melewati ujian ini jadi teruslah meminta kelebihan kesabar dan kekuatan iman.” Aku terdiam mendengar perkataan mila yang sejenak menenangkan hatiku. yaAllah, ternyata kau masih memberikanku seorang teman yang mendukung akan perubahanku. Teman yang hadir disaat aku mengalami kesusahan. Ia mampu menenangkanku. Terimakasih yaAllah, terimakasih Mila.
By : Alvi Aqeel

           

Komentar

Postingan Populer